Kisah Sedih Mbah Saminem Agar Bisa Makan ia Rela di Bayar Rp 1000 Rupiah Sekali Pijat
Jumat, September 04, 2020
Add Comment
Sungguh miris memang ketika mengetahui ada orang tua yang tinggal sendirian, tanpa ada perawatan dari anak-anak yang sudah dibesarkan, dimana mereka malah asyik dengan kehidupannya sendiri.
Usia senja sudah selayaknya hidup tenang dan bahagia di sisi anak dan cucu. Tidak dengan Mbah Saminem. Mbah Saminem adalah salah satu perempuan lanjut usia yang hidup sebatang kara.
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Mbah Saminem yang tinggal di sebuah kampung di Ponorogo ini pun perlu berusaha sendiri. Mirisnya, terkadang Mbah Saminem hanya mendapatkan upah yang jauh dari harapan.
Di dalam rumahnya, nampak tak ada satu pun barang mewah atau pun berharga yang dimiliki oleh Mbah Saminem. Bahkan, semua perabotan rumahnya tampak usang dan tak terurus.
Ia pun hanya tidur di atas tanah dengan sebuah alas berupa tikar sederhana.
Untuk makan, terkadang Mbah Saminem hanya menunggu belas kasihan dari tetangga. Ia menyebut ada tetangga di seberang sungai yang kerap kali menolongnya saat dirinya yang tua renta tersebut membutuhkan pertolongan.
"Bocah ler kali niku (orang utara sungai itu)," ungkapnya.
Kondisi fisik dari Mbah Saminem pun nampaknya semakin menurun. Saat ditanya mengenai usianya oleh pria yang akrab disapa Cak Budi, Mbah Saminem menyebut bahwa ia tak mengingat usianya saat ini."Yuswane pinten mbah (umurnya berapa mbah)?," tanyanya.
"Aku ra ngerti (aku tidak tahu)," jelasnya.
Penderitaan Mbah Saminem kian menyedihkan saat dirinya mengaku bahwa ketiga anaknya tak pernah mengunjungi dirinya. Dari video tersebut, diketahui beberapa anak dari Mbah Saminem kini berada di Pare dan Tulungagung.
Sembari menangis ingin anak cucunya pulang, Mbah Saminem pun menceritakan hal tersebut kepada Cak Budi "Anak putuku ngendangi aku. Ora diendangi aku (Anak cucuku datangi aku. Tidak pernah dikunjungi aku)," ujarnya.
Sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja, Mbah Saminem dulu sempat bekerja sebagai tukang pijat hingga ke desa tetangga. Meski telah bekerja keras, Mbah Saminem hanya diberi seribu rupiah.
"Nek disukani sok-sok yo sewu (Kalau dikasih ya kadang-kadang seribu)," terangnya.


0 Response to "Kisah Sedih Mbah Saminem Agar Bisa Makan ia Rela di Bayar Rp 1000 Rupiah Sekali Pijat"
Posting Komentar